Menentukan Ornamen Interior dan Eksterior

Menentukan Ornamen Interior dan Eksterior

Ornamen merupakan salah satu  seni hias yang paling dekat dengan kriya apalagi jika dikaitkan dengan berbagai hasil produknya, oleh karena itu untuk membuat dan mengembangkan atau merintis suatu keahlian pada bidang kriya peranan ornamen menjadi sangat penting. Disamping itu dalam hal hias-menghias, merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang tidak kalah pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dengan cabang-cabang seni rupa lainnya. Peranan ornamen sangat besar, hal ini dapat dilihat dalam penerapannya pada berbagai hal meliputi: bidang arsitektur, alat-alat upacara, alat angkutan, benda souvenir, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya, untuk memenuhi berbagai aspek kehidupan baik jasmaniah maupun rokhaniah.
Untuk mempelajari dan menghayati bentuk serta arti seni ornamen, terlebih sampai pada sejarah, makna simbolis, gaya, jenis, cara pengungkapan, fungsi atau penerapannya pada suatu benda atau bangunan dan lain-lain, diperlukan suatu pengetahuan serta kemahiran (skill) tertentu dan waktu yang panjang, mengingat seni ornamen mempunyai berbagai aspek seperti: jenis motif, corak, perwatakan, nilai, teknik penggambaran, dan penerapan yang berbeda-beda. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk mempelajari, mengerti, menghayati, dan menciptakannya secara baik dengan bertahap, bila didukung oleh kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat.



A.    PENGERTIAN ORNAMEN
Ornamen berasal dari kata “ORNARE” (bahasa Latin) yang berarti menghias. Ornamen adalah salah satu karya seni dekoratif yang biasanya dimanfaatkan untuk menambah keindahan suatu benda atau produk, atau merupakan suatu karya seni dekoratif (seni murni) yang berdiri sendiri, tanpa terkait dengan benda/produk fungsional sebagai tempatnya.
Menurut tata letaknya ornamen dapat dibedakan menjadi 2 yaitu ornamen eksterior dan ornamen interior. Secara garis besar yang dimaksud dengan ornamen eksterior yaitu ornamen yang digunakan di luar ruangan, sedangkan ornamen interior yaitu ornamen yang digunakan di dalam ruangan.
Ornamen memiliki peranan yang tidak dapat dipisahkan dari nilai estetika sebuah bangunan. Tanpa ornamen sebuah bangunan dirasa kurang sempurna. Hal ini dikarenakan ornamen merupakan faktor pendukung dari bangunan itu sendiri yang syarat akan nilai estetika yang ditampilkannya. Jadi, agar bangunan memiliki nilai keindahan, ornamen sangatlah penting sekali untuk digunakan.

B.     FUNGSI ORNAMEN
Penciptaan suatu karya biasanya selalu terkait dengan fungsi tertentu,demikian pula halnya dengan karya seni ornamen yang penciptaannya selalu terkait dengan fungsi atau kegunaan tertentu pula. Beberapa fungsi ornamen diuraikan sebagai berikut:
1.      sebagai ragam hias murni, maksudnya bentuk-bentuk ragam hias yang dibuat hanya untuk menghias saja demi keindahan suatu bentuk (benda ) atau bangunan, dimana ornamen tersebut ditempatkan. Penerapannya biasanya pada alat-alat rumah tangga, arsitektur, pada pakaian (batik, bordir, kerawang)  pada alat transportasi dan sebagainya.
2.      Sebagai ragam hias simbolis, maksudnya karya ornamen yang dibuat selain mempunyai fungsi sebagai penghias suatu benda juga memiliki nilai simbolis tertentu di dalamnya, menurut norma-norma tertentu (adat, agama, sistem sosial lainnya). Bentuk, motif dan penempatannya sangat ditentukan oleh norma-norma tersebut terutama norma agama yang harus ditaati, untuk menghindari timbulnya salah pengertian akan makna atau nilai simbolis yang terkandung didalamnya, oleh sebab itu pengerjaan suatu ornamen simbolis hendaknya menepati aturan-aturan yang ditentukan. Contoh ragam hias ini misalnya motif kaligrafi, motif pohon hayat sebagai lambang kehidupan, motif burung phonik sebagai lambang keabadian, motif padma, swastika,lamak dan sebagainya.

C.    MOTIF DAN POLA PADA ORNAMEN
Motif dalam konteks ini dapat diartikan sebagai elemen pokok dalam seni ornamen. Ia merupakan bentuk dasar dalam penciptaan/perwujudan suatu karya ornamen. Motif dalam ornamen meliputi:
1.      Motif hias manusia : Dikatakan motif hias manusia karena dalam pembuatan ragam hiasnya mengacu pada figure manusia.
Motif Manusia
2.      Motif hias binatang : Motif hias ini di dalam pembuatannya mengacu pada bentuk binatang
Motif Binatang
3.      Motif hias tumbuh-tumbuhan : Motif hias ini di dalam pembuatannya bersumber pada bentuk tumbuh-tumbuhan.
Motif Tumbuhan
4.      Motif hias geometris : Motif hias ini dalam pembuatannya mengacu pada bentuk ilmu ukur seperti: garis lurus, garis lengkung, lingkaran, segi tiga, segi empat dsb
Motif Geometrik
5.      Motif hias Khayali : Kenapa disebut dengan motif hias khayali, karena dalam penciptaannya berdasarkan khayalan dari si pembuat, dan di dalam kehidupan kita motif hias ini sebenarnya tidak ada misalnya : naga, raksasa, dsb.
Motif Khayali
6.      Motif hias kosmos atau berbentuk alam : Dikatakan motif hias kosmos atau alam memang dalam pembuatannya mengacu pada bentuk-bentuk alam, seperti : awan, cadas, air, batu, gunung, dsb .
Motif Awan
Sedangkan yang dimaksud pola adalah suatu hasil susunan atau pengorganisasian dari motif tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu pula. Contohnya pola hias batik, pola hias majapahit, jepara, bali, mataram dan lain-lain.singkatnya pola adalah penyebaran atau penyusunan dari motif-motif.
Pola biasanya terdiri dari :
1.      Motif pokok.
2.      Motif pendukung/piguran.
3.      Isian /pelengkap.

Penyusunan pola dilakukan dengan jalan menebarkan motif secara berulang-ulang, jalin-menjalin, selang-seling, berderet, atau variasi satu motif dengan motif lainnya. Hal-hal yang terkait dengan pembuatan pola adalah :
1.   Simetris yaitu pola yang dibuat, antara bagian kanan dan kiri atau atas dan bawah adalah sama.
2.   Asimetris yaitu pola yang dibuat antara bagian-bagiannya (kanan-kiri, atas-bawah) tidak sama.
3.      Pengulangan yaitu pola yang dibuat dengan pengulangan motif-motif.
4.      Bebas atau kreasi yaitu pola yang dibuat secara bebas dan bervariasi.
Pola memiliki fungsi sebagai arahan dalam membuat suatu perwujudan bentuk artinya sebagai pegangan dalam pembuatan agar tidak menyimpang dari bentuk/motif yang dikehendaki, sehingga hasil karya sesuai dengan ide yang diungkapkan.

D.    TEKNIK PENYELESAIAN (FINISHING)
Penyelesaian gambar ornamen bertujuan untuk membuat karya tersebut menjadi lebih indah, dan gambar yang difinishing akan nempak lebih jelas dan menarik. Beberapa teknik yang bisa digunakan untuk melakukan finishing adalah sebagai berikut:
1.   Teknik hitam-putih yaitu penyelesaian suatu karya ornamen yang hanya memanfaatkan tinta atau pensil hitam, penyelesaian dengan cara ini dimaksudkan untuk menimbulkan kesan gelap-terang, penyinaran, kesan jarak, dan kesan volume. Teknik penyelesaian (finishing) dilakukan dengan sistem :
·         Arsiran (searah, bebas, dusel)
·         Pointilis yaitu penyelesaian dengan menggunakan titik-titik.
·         Sungging atau gradasi yaitu dengan menggunakan tinta china atau tinta bak, finishing ini dilakukan melalui tahapan-tahapan dari tipis ke tebal atau dari gelap ke terang sesuai dengan keinginan.
2.    Teknik warna yaitu jenis finishing yang menggunakan warna sebagai unsur pokok. Finishing ini dilakukan dengan sistem:
·        Plakat yaitu menerapkan warna secara plakat (poster) sesuai dengan warna motif yang diinginkan.
·      Gradasi (warna tersusun) yaitu dengan menerapkan warna secara tersusun baik dari warna gelap kewarna terang atau sebaliknya.
·   Gelap-terang yaitu menerapkan warna dari warna gelap ke warna terang dengan menebarkan warna (bukan tersusun).
Untuk mendapat hasil yang maksimal dalam melakukan finishing dengan warna adalah pengetahuan seseorang tentang teori warna yang menyangkut: jenis warna, teknik pencampuran warna dan efek yang ditimbulkan, nilai warna, sifat warna, makna warna dan lain-lain.
E.     WARNA DAN ORNAMEN POIN PENTING DALAM DESAIN INTERIOR

Keberadaan arsitek dalam menyelesaikan desain baik interior maupun eksterior, tidak lepas dari pengalaman maupun citra seni yang diusungnya. Namun, desain yang baik juga harus selalu disesuaikan dengan kondisi rumah, dan yang perlu diperbaiki adalah penampilannya, terutama warna dan ornamen. Dalam memilih ornamen maupun warna jangan salah pilih, sebab bisa tidak “nyambung” dengan ruangan atau lebih parah lagi menjadi hambar, sehingga konsep yang ingin ditampilkan tidak terasa.
Arsitektur adalah seni yang bertujuan memberi nuansa beda secara keseluruhan, interior maupun eksterior, bukan hanya satu sudut pandang mata saja, dengan permainan warna dan ornamen, seperti warna-warna “tabrakan” (warna yang menyolok). Sedangkan ornamen seperti lukisan, foto, kursi, lighting dan sebagainya dapat juga ditambahkan untuk mengisi ruangan tersebut.
Dengan kata lain, lewat pemilihan warna yang menyolok maupun penempatan ornamen yang menarik pada ruangan kecil, dapat membuat sebuah ruangan memperoleh “eye catching”. Sementara, sisi-sisi yang lain cukup diberi sedikit sentuhan sebagai aksen tambahan. Ini semua tentu tidak terlepas dari ketelitian seorang arsitek maupun pemilik rumah.
Oleh sebab itu, sebagai ahli kita harus selalu memberi saran kepada pemilik rumah agar tidak salah dalam memilih ornamen maupun warna. Karena, warna dan ornamen yang tidak cocok dengan ruangan justru “merusak” ruangan, sehingga konsep yang ingin ditampilkan tidak terasa. Selain itu, peran pemilik rumah atau pemilik bangunan dalam menyampaikan keinginannya kepada arsitek juga sangat penting, sehingga arsitek dapat mengapresiasikan apa yang diinginkan pemilik dan bentuk desain ruangan yang dinginkan serta nuansa yang diharapkan dapat terwujud.

Harmoni antara warna dan ornamen sangat berperan penting untuk menghidupkan sebuah ruangan. Kreativitas dalam mendesain ruangan tidak terbatas dengan model-model yang telah ada. Hal ini dapat juga ditampilkan dalam bentuk desain ruangan yang futuristik sebagai tambahannya.

Desain Taman

Halaman rumah merupakan hal yang sangat mungkin dibuat menjadi taman. Namun apakah kita pernah memikirkan potensi yang ada pada rumah kita? Padahal jika diperhatikan dengan seksama, potensi sekecil apapun yang dimiliki di halaman akan selalu memberi arti tersendiri bagi lingkungan sekitar. Cara menyadari potensi yang ada tersebut antara lain:

1.      Posisi keberadaan halaman

Mau dimanapun posisi halaman kita tentu tidak menjadi suatu halangan untuk merencanakan taman. Baik itu di depan, samping, atau di belakang rumah merupakan potensi yang perlu disadari sedini mungkin. Beruntung jika memiliki kavling atau rumah dengan posisi di sudut jalan, karena potensi yang didapat dalam merencanakan taman akan lebih leluasa. Namun bagaimana dengan rumah yang dihimpit dengan dua tetangga disebelah rumah? Tentu saja dengan pengoptimalan halaman depan yang mana menjadi area penerima bagi penghuni dan tamu.

2.      View dari dan luar halaman

Pemanfaatan view yang hadir di halaman kita menjadi faktor pendukung untuk rencana pembuatan taman. Apakah menggunakan pagar yang terbuat dari papan/kayu/besi atau menggunakan batas area rumah tanpa pagar (taman yang agak tinggi) yang dapat membuat batas semu antara area dalam dan luar halaman. Ini juga merupakan potensi yang baik untuk menyatukan halaman kita dengan lingkungan di sekitar rumah kita.

3.      Ruang terbuka di dalam rumah
Pembuatan patio (taman di dalam rumah) sangat efektif untuk mengoptimalkan perencanaan taman. Seperti di kawasan Timur Tengah, dimana hampir semua rumah mempunyai patio untuk memberikan sirkulasi udara dan mengurangi panas. Tentu saja ini bisa dicontoh untuk pembuatan taman di tengah rumah kita. Selain aliran udara yang lancar, sejuk, dan sinar Matahari yang selalu masuk, tentu saja itu menjadikan rumah kita sebagai rumah sehat.

Membuat taman merupakan salah satu usaha kita untuk menghadirkan keindahan bagi lingkungan rumah kita. Perencanaan desain taman baik di depan, samping, dan belakang rumah, ternyata bisa kita lakukan sendiri. Tentu pertanyaannya sekarang, bagaimana membuat taman itu?
           1.      Tema Taman
Pilihlah tema taman yang sesuai dengan keinginan. Misalnya, memilih tema taman gaya bali, taman gaya eropa, taman gaya jepang, atau gaya modern. Namun kita juga harus mempertimbangkan situasi dan kondisi lahan yang dimiliki.
            2.      Pemilihan tanaman
Pemilihan vegetasi merupakan poin yang harus diperhatikan. Buatlah beberapa list jenis tanaman yang disuka. Belilah sesuai dengan kebutuhan bagi lahan dan tentunya tanaman yang sehat juga menjadi poin yang sangat penting. Rumus untuk menghitung jumlah tanaman (berdasarkan jarak tanam vegetasi) yang ada sebagai berikut:
Jarak Tanam (cm)
Jumlah Tanaman (nos/m2)
10
100
15
44.444
20
25
25
16
30
11.111
40
6.25
50
4
60
2.7
75
1.7
100
1
*nos = satuan tanaman (English)
Jadi seperti ini perhitungannya: jika kita memiliki 2 meter persegi lahan, dan mempunyai tanaman yang mempunyai jarak tanam 30 cm, maka jumlah tanaman yang kita butuhkan adalah 22.222 (dibulatkan menjadi 22)
            3.      Tata Letak
Tata letak tanaman mempengaruhi keindahan dalam merancang taman. Selalu perhatikan komposisi vegetasi seperti rumput (grass), tanaman penutup (groundcover), perdu (shrubs and feature plant), tanaman air (waterplant) dan pohon (tree). Strata vegetasi yang harus diperhatikan antara lain: Pohon diletakkan sebagai background (area paling belakang), Perdu dan semak diletakkan sebagai midground (area tengah), dan terakhir tanaman penutup atau groundcovers dan rumput diletakkan sebagai foreground (area depan)
            4.      Pengolahan Media Tanam
Pengolahan media tanam yang baik dengan pencampuran tanah humus dan pupuk (organik atau non organik) sangat berperan bagi kelangsungan hidup tanaman kita. Penyiraman yang baik juga harus diperhatikan terutama pada pagi dan sore hari. Untuk penyirama jika memiliki dana lebih, bisa menggunakan sprinkler (penyiram air otomatis) yang dapat disetting sesuai keinginan kita.
            5.      Drainase
Pada musim hujan bagian ini yang penting diperhatikan. Tanpa drainase kebun atau taman kita bisa banjir. Kenapa? Karena pada dasarnya drainase untuk mengatur aliran air yang sudah tidak terpakai dialihkan ke pembuangan riol (istilahnya got). Tapi ada juga alternatif pembuatan drainase ini dengan pembuatan lubang biopori.

       ELEMEN-ELEMEN TAMAN
Untuk memahami elemen-elemen taman, perhatikanlah contoh desain taman di bawah ini.

A.   Desain Taman - Frontyard Garden (taman di depan rumah)
 Desain taman ini, akan dijelaskan dengan memisahkan antara elemen lunak (softscape) dan elemen keras (hardscape). Elemen lunak adalah elemen pendukung seperti pohon, perdu dan semak, tanaman penutup tanah, dan rumput. Sedangkan elemen keras adalah elemen pendukung taman seperti kerikil, batu, lampu taman, dan lain sebagainya.

1.     Elemen Lunak

Sesuai dengan temanya, taman ini diisi dengan berbagai tanaman tropis yang mudah ditemui di Indonesia. Untuk pohon, dapat diletakkan 2 Pohon Kamboja yaitu di sudut taman dalam dan di luar areal rumah. Selain itu, dapat pula menghadirkan palem merah (Dypsis lasteliana) di sudut taman. Tentunya sesuai dengan selera klien. 
Untuk perdu dan semak, dapat menggunakan tanaman seperti Heliconia chatartea ‘Sexy Pink’ (pisang-pisangan), Spathyphillum wallisi ‘White Sail’ (Bakung), Bougainvillea glabra ‘Fuschia’, Pink Rose, Alamanda ‘Yellow’, Crinum sp., dan Strellitzia reginae. Selain itu, dapat pula menggunakan tanaman air di dalam pot yaitu Teratai dan bunga lotus.
Sedangkan untuk tanaman penutup tanah, dapat menggunakan Ophiopogon japonicus (Kucai) sebagai pembatas antara area shrubs dan rumput. Dan untuk pemilihan rumput, dapat dipilih rumput Gajah karena rumput ini dikenal ‘bandel’ dalam segala situasi dan kondisi.

2.     Elemen Keras

Elemen keras yang dapat digunakan pada desain ini seperti gravel/kerikil, pot, batu granit/palimanan, dan drainase. Gravel/kerikil dibuat untuk mengatasi aliran air yang ada di area taman, atau bisa juga disebut drainase. Kalau memungkinkan bisa juga membuat lubang biopori di dalam taman ini. Pot yang berisikan tanaman dimaksudkan sebagai aksen agar terlihat tidak kaku.
Kemudian untuk area carport, dapat dibuat dengan meletakkan batu palimanan atau bisa juga batu andesit. Tapi tidak semua area carport ini ditutup dengan batu, karena didesain ada celah untuk ditanami rumput agar air bisa kembali ke dalam tanah. Selain itu desain carport ini dimaksudkan agar tidak terlalu panas pada siang hari.

       B. Desain Taman - Backyard Garden (Halaman belakang rumah)
Halaman ini terletak diantara bangunan utama dan bangunan di belakang. Desainnya untuk mempercantik di depan ruang kamar tidur dan dapur. Desain ini dibagi dalam dua bagian.

1.     Hardscape (Elemen Keras)

Taman ini terdapat akses menuju kamar tidur (di sebelah kiri gambar) dan dapur. Akses stepping stone (jalan setapak) yang terbuat dari batu andesite berukuran 70×40 cm dengan jarak antar stepping stone 10 cm. Pembuatan water feature yang berupa pot yang mengeluarkan air dengan menggunakan bubbling effect, melengkapi elemen air pada lingkungan dari rumah ini.
Finishing kolam air menggunakan batu andesite random style (penyusunan acak) di sekelilingnya. Dari pinggiran kolam ke permukaan air berjarak 15 cm, dengan kedalaman air 40 cm dari permukaan air. Penggunaan waterproof membrane/screed dimaksudkan agar air yang ada di kolam tidak merembes ke struktur betonnya. Dan terakhir instalasi pipa dan pompa untuk memberi sirkulasi air dan untuk mencegah hadirnya jentik nyamuk.

2.     Softscape (Elemen Lunak)

Pemilihan vegetasi masih menggunakan konsep taman tropis. Pohon palem Jepang dengan nama latin Ptychosperma macarthurii diletakkan di sudut taman. Dapat pula menghadirkan 2 pot tanaman yang berisi Philodendron selloum (mirip daun talas) dan Ixora sinesis.
Sphatoglotis Sp. (Anggrek Tanah), Heliconia psittacorrum ‘Lady Di’, dan Spathiphyllum walisii (White sail) digunakan sebagai tanaman perdu dan semak. Tanaman penutup tanah yaitu Ophiopogon japonicus (Kucai) dan rumput.
Bahan Penutup Atap

Bahan Penutup Atap

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar bahwa mahkotanya suatu bangunan terletak pada keserasian atapnya. salah satu faktor yang turut mempengaruhi keserasian itu adalah jenis bahan penutupnya. Penutup atap ini dimaksudkan untu melindungi bagian dalam terhadap pengarauh hawa, yaitu berupa hujan, panas, angin, debu atau pengaruh-pengaruh lainnya yang dapat mengganggu kenyamanan penghuninya. Jenis bahan penutup yang dapat digunakan, maka dipandang perlu untuk membuat kriteria dasar pemilihannya.
Adapun kriteria dasar untuk dapat memilih bahan penutup atap adalah sebagai berikut :
  1. Tinjauan terhadap iklim setempat, artinya: apakah di tempat didirikannya bangunan itu mempunyai iklim panas atau iklim dingin?
  2. Bentuk keserasian atap yang dikehendaki
  3. Tinjauan daripada didirikannya bangunan tersebut.
  4. Mudahnya bahan itu didapat atau ditemukan di tempat di mana bangunan itu didirikan.
  5. Jumlah dana / Uang yang tersedia.
Dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan di atas barulah kiranya kita dapat menentukan atau memilih salah satu jenis bahan penutup bidang atap yang akan dipergunakan.

1. Syarat-Syarat Umum Bahan Penutup Atap
Adapun syarat umum bahan penutup atap adalah :
  • Bahan harus dapat bersifat isolasi terhadap panas, dingin dan bunyi
  • Harus rapat terhadap air hujan / tidak tembus air.
  • Tidak mengalami perubahan bentuk karena adanya pergantian / perubahan cuaca
  • Tidak terlalu banyak memerlukan perawatan.
  • Tidak mudah terbakar
  • Bobotnya cukup ringan dan mempunyai kedudukan yang mantap setelah dipasang
  • Tahan lama / awet
Disamping persyaratan di atas, bahan penutup atap mempunyai hubungan yang erat dengan sudut lerengnya. Makin rapat dan padat bahan penutup atap, sudut lerengnya dapat dibuat lebih landai seperti bahan dari beton atau asbes.
Kemiringan dari suatu bentuk atap dibuat dengan maksud :
  1. Agar air hujan yang jatuh pada permukaan bidang atap dengan cepat dapat mengalir meninggalkan bidang atap tersebut, sehingga kemungkinan rembes sangatlah kecil.
  2. Menambah keindahan pandangan dari suatu bangunan.
  3. Didapat ruangan atas yang sekaligus dapat berfungsi sebagai isolasi terhadap iklim. Dan bila dalam keadaaan memaksa dapat dipakai untuk gudang penyimpanan barang-barang kecil dan ringan.
Hubungan antara jenis bahan penutup dengan Besar-kecilnya sudut lereng (kemiringan) atap.
No.                      Bahan Penutup Atap                                     Sudut Kemiringan atap (derajat)
1.                        Beton                                                                                        1 – 2
2.                        Kaca                                                                                       10 – 20
3.                        Semen Asbes                                                                          15 – 25
4.                        Seng    
                                                                                    20 – 25
5.                      
 Genteng                                                                                   30 – 40
6.                        Sirap            
                                                                            25 – 40
7.                       
Ijuk, alang-alang                                                                        >= 40

2. Jenis-jenis penutup atap
Setiap jenis penutup atap punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan jenis penutup atap dengan mempertimbangkan penampilan, kepraktisan, bentuk dan umur rencananya masing masing. Berikut ini, ada beberapa jenis atap dan perkiraan secara umum masa kerjanya. :

Atap sirap
Penutup atap yang terbuat dari kepingan tipis kayu ulin (eusideroxylon zwageri) ini umur kerjanya tergantung keadaan lingkungan, kualitas kayu besi yang digunakan, dan besarnya sudut atap. Penutup atap jenis ini bisa bertahan antara 25 tahun hingga selamanya.

Atap genteng beton
Bentuk dan ukurannya hampir sama dengan genteng tanah tradisional, hanya bahan dasarnya adalah campuran semen PC dan pasir kasar, kemudian diberi lapisan tipis yang berfungsi sebagai pewarna dan kedap air. Sebenarnya atap ini bisa bertahan hampir selamanya, tetapi lapisan pelindungnya hanya akan bertahan antara 30 tahun hingga 40 tahun.

Atap seng 
Atap ini sebenarnya dibuat dari lembaran baja tipis yang diberi lapisan zinc secara elektrolisa. Tujuannya untuk membuatnya menjadi tahan karat. Jadi, kata seng berasal dari bahan pelapisnya. Jenis ini akan bertahan selama lapisan zinc ini belum hilang, yang terjadi sekitar tahun ke-30-an. Setelah itu, atap akan mulai bocor apabila ada bagian yang terserang karat.

Atap tanah liat tradisional
Material ini banyak dipergunakan pada rumah umumnya. Gentang terbuat dari tanah liat yang dipress dan dibakar. Kekuatannya cukup. Genteng tanah liat membutuhkan rangka untuk pemasangannya. Genteng dipasang pada atap miring. Genteng menerapkan sistem pemasangan inter-locking atau saling mengunci dan mengikat.
Akan bertahan selamanya. Cuma warna dan penampilan genteng jenis ini akan berubah seiring dengan bertambahnya jamur yang tumbuh di badan genteng. Di mata sebagian orang, ini memperindah penampilan atap kita. Namun, yang kurang menyukai ini atau memang hal ini tidak sesuai dengan gaya arsitektur rumahnya bisa menggunakan genteng berlapis glasur. Selain melindungi dari lumut, lapisan glasur memungkinkan genteng diberi warna yang juga bertahan hampir selamanya. Genteng tanah liat yang diberi lapisan glasur ini sering disebut genteng keramik. Aplikasinya sangat cocok untuk hunian modern di perkotaan.

Atap Genteng Metal
Bentuknya lembaran, mirip seng. Genteng ini ditanam pada balok gording rangka atap, menggunakan sekrup. Bentuk lain berupa genteng lembaran.
Pemasangannya tidak jauh berbeda dengan genteng tanah liat hanya ukurannya saja yang lebih besar. Ukuran yang tersedia bervariasi, 60-120cm (lebar), dengan ketebalan 0.3mm dan panjang antara 1.2-12m.

Genteng Aspal
Bahan meterial yang satu ini dari campuran lembaran bitumen (turunan aspal) dan bahan kimia lain. Ada dua model yang tersedia di pasar. Pertama, model datar bertumpu pada multipleks yang menempel pada rangka. Multipelks dan rangka dikaitkan dengan bantuan sekrup. Genteng aspal dilem ke papan. Untuk jenis kedua, model bergelombang, ia cukup disekrup pada balok gording.

Atap dak beton
Sebenarnya jenis atap datar ini jarang menjadi atap utama. Atap ini hanya digunakan sebagai penutup bagian rumah yang sulit ditutup oleh jenis atap miring.
Atap beton bisa dikatakan sebagai atap yang bebas kebocoran mengingat bentuknya yang solid. Meski demikian, sebaiknya atap beton diperiksa setelah mengalami satu musim hujan dan satu musim kemarau alias selama setahun setelah selesai dibangun, untuk mendeteksi keretakan yang mungkin terjadi dan kerusakan lapisan waterproofing-nya. Sementara itu lapisan waterproofing ini memang harus secara periodik diperbaiki atau diganti.

Atap Polycarbonate
Atap ini berbentuk lembaran yang besar sehingga dimungkinkan untuk luasan yang besar tanpa sambungan. Keunggulan polycarbonate lebih ke kualitas material dan besarnya daya reduksi thd radiasi matahari. Biasanya dipakai pada kanopi atau atap tambahan.
Pemasangan polycarbonate mudah dan cepat, namun harganya memang lebih mahal dari atap atap lainnya.

Atap spandek merupakan atap dengan profil gelombang 9 atau profil CD 680 dan CD 925 dengan ketebalan 0,25mm sampai dengan 0,5mm. Atap Spandek dirancang sebagai bahan penutup atap dan dinding yang kuat,dengan bentuk gelombang yang kontemporer untuk bangunan perumahan, industri, dan komersial.

Atap trimdeck merupakan atap dengan profil gelombang 5 atau profil CD 750. Atap trimdeck dirancang sebagai penutup atap dan dinding  dengan estetik yang baik, dan efisien dalam penggunaan material.

Bondek merupakan plat baja yang dilapisi galvanis yang memiliki struktur yang kokoh untuk aplikasi lantai cor. Bondek memiliki fungsi ganda yaitu sebagai bekisting tetap dan penulangan positif satu arah.

Masih banyak jenis penutup atap yang punya umur dan properti masing-masing. Dan masing-masing patut dipertimbangkan untuk dipilih karena punya kelebihan khusus, seperti penampilan, kepraktisan, dan fleksibilitas bentuk. Antara lain adalah penutup atap yang dibuat dengan bahan dasar lembaran bitumen (turunan aspal), asbes atau bahkan dari kepingan batu tipis (slates). Umumnya, rentang usianya bergantung pada lapisan pelindungnya.


Untuk perhatian bagi pengguna aluminium foil. Benda ini dirancang untuk menahan panas, bukan untuk menahan air. Aluminium memang dikenal mempunyai sifat-sifat menahan panas. Bagaimanapun dalam menghadapi kebocoran, benda ini memiliki kegunaan, yaitu bisa mencegah bocor yang ringan. Namun, pada saat yang sama kita kesulitan melokalisasi kebocoran tersebut karena titik bocor akan berbeda dengan jatuhnya air di dalam rumah.